Rabu, 16 November 2011

Askep rematik pada lansia

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Keadaan demikian itu tampak pula pada semua sistem muskuloskeletal dan jaringan lain yang ada kaitannya dengan kemungkinan timbulnya beberapa golongan reumatik. Salah satu golongan penyakit reumatik yang sering menyertai usia lanjut yang menimbulkan gangguan muskuloskeletal terutama adalah osteoartritis. Kejadian penyakit tersebut akan makin meningkat sejalan dengan meningkatnya usia manusia.
Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik. Bagaimana timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti.
Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu sindrom dan.golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma reumatik cukup banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan ciri. Menurut kesepakatan para ahli di bidang rematologi, reumatik dapat terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi, kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto, 1982)
Reumatik dapat terjadi pada semua umur dari kanak – kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan reumatik akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo, 1994)

1.2  Tujuan penulisan
Pembaca akan memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien lansia dengan rematik

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar
2.1.1        Proses Menua
Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memeperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes, 1994)
Proses menua bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi, kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan karena lanjut usia tetapi karena suatu penyakit, atau juga suatu kecacatan. Akan tetapi proses menua dapat menyebabkan berkurangnya daya tahan tubuh dalam nenghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Walaupun demikian, memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia.
Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya kehilangan jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga tubuh mati sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batas yang tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun. Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapain puncak maupun menurunnya

Perubahan Fisiologis pada Proses Menua
Pada perubahan fisiologis pada proses menjadi tua, ada jangka periode waktu tertentu dimana individu paling mudah mengalami perubahan musculoskeletal. Perubahan ini terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja karena pertumbuhan atau perkembangan yang cepat atau timbulnya terjadi pada usia tua. Perubahan struktur system muskuloskeletal dan fungsinya sangat bervariasi diantara individu selama proses menjadi tua. Perubahan yang terjadi pada proses menjadi tua merupakan suatu kelanjutan dari kemunduran yang dimulai dari usia pertengahan. Jumlah total dari sel-sel bertumbuh berkurang akibat perubahan jaringan prnyambung, penurunan pada jumlah dan elasitas dari jaringan subkutan dan hilangnya serat otot, tonus dan kekuatan.
Perubahan fisiologis yang umum adalah:
ü  Adanya penurunan yang umum pada tinggi badan sekitar 6-10 cm pada maturasi usia tua.
ü  Lebar bahu menurun.
ü  Fleksi terjadi pada lutut dan pangkal paha

2.1.2        Sistem Muskuloskeletal
a        Anatomi dan Fisiologi
Muskuloskeletal terdiri dari tulang, otot, kartilago, ligament, tendon, fasia, bursae dan persendian.
v  Tulang
Tulang terdiri dari sel-sel yang berada pada bagian intra-seluler. Tulang berasal dari embryonic hyaline cartilage yang mana melalui proses “osteogenesis” menjadi tulang. Proses ini dilakukan oleh sel-sel yang disebut Osteoblast. Proses mengerasnya tulang akibat menimbunya garam kalsium.
Fungsi tulang adalah sebagai berikut:
ü  Mendukung jaringan tubuh dan menbuntuk tubuh.
ü  Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru) dan jaringan lunak.
ü  Memberikan pergerakan (otot yang berhubungan dengan kontraksi dan pergerakan)
ü  Membuat sel-sel darah merah di dalam sumsum tulang (hema topoiesis).
ü  Menyimpan garam-garam mineral, Misalnya kalsium, fosfor.

Tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya
ü  Tulang panjang (femur, humerus ) terdiri dari satu batang dan dua epifisis. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat.epifisis dibentuk oleh spongi bone (Cacellous atau trabecular )
ü  Tulang pendek (carpalas) bentuknya tidak teratur dan cancellous (spongy) dengan suatu lapisan luar dari tulang yang padat.
ü  Tulang pendek datar (tengkorak) terdiri dari dua lapisan tulang padat dengan lapisan luar adalah tulang cancellous.
ü  Tulang yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang pendek.
ü  Tulang sesamoid merupakan tulang kecil, yang terletak di sekitar tulang yang berdekatan dengan persendian dan didukung oleh tendon danjaringan fasial,missal patella (kap lutut)
v  Otot
Otot dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi dan untuk menghasilkan pergerakan dari bagian tubuh atau seluruh tubuh.

 Kelompok otot terdiri dari:
ü  Otot rangka (otot lurik) didapatkan pada system skeletal dan berfungsi untuk memberikan pengontrolan pergerakan, mempertahankan sikap dan menghasilkan panas
ü  Otot Viseral (otot polos) didapatkan pada saluran pencernaan, saluran perkemihan dan pembuluh darah. Dipengaruhi oleh sisten saraf otonom dan kontraksinya tidak dibawah control keinginan.
ü  Otot jantung didapatkan hanya pada jantung dan kontraksinya tidak dibawah control keinginan.
v  Kartilago
Kartilago terdiri dari serat-serat yang dilakukan pada gelatin yang kuat. Kartilago sangat kuat tapi fleksibel dan tidak bervascular. Nutrisi mencapai kesel-sel kartilago
dengan proses difusi melalui gelatin dari kapiler-kapiler yang berada di perichondrium (fibros yang menutupi kartilago) atau sejumlah serat-serat kolagen didapatkan pada kartilago.
v  Ligament
Ligament adalah sekumpulan dari jaringan fibros yang tebal dimana merupakan akhir dari suatu otot dan dan berfungsi mengikat suatu tulang.
v  Tendon
Tendon adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrous yang membungkus setiap otot dan berkaitan dengan periosteum jaringan penyambung yang mengelilingi tendon tertentu, khususnya pada pergelangan tangan dan tumit. Pembungkus ini dibatasi oleh membrane synofial yang memberikan lumbrikasi untuk memudahkan pergerakan tendon.
v  Fasia
Fasia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang didapatkan langsung dibawah kulit sebagai fasia supervisial atau sebagai pembungkus tebal, jaringan penyambung yang membungkus fibrous yang membungkus otot, saraf dan pembuluh darah.bagian ahair diketahui sebagai fasia dalam.
v  Bursae
Bursae adalah suatu kantong kecil dari jaringan penyambung dari suatu tempat, dimana digunakan diatas bagian yang bergerak, misalnya terjadi pada kulit dan tulang, antara tendon dan tulang antara otot. Bursae bertindak sebagai penampang antara bagian yang bergerak sepaerti pada olecranon bursae, terletak antara presesus dan kulit.
v  Persendian
Pergerakan tidak akan mungkin terjadi bila kelenturan dalam rangka tulang tidak ada. Kelenturan dimungkinkan karena adanya persendian, tatu letah dimana tulang berada bersama-sama. Bentuk dari persendian akan ditetapkan berdasarkan jumlah dan tipe pergerakan yang memungkinkan dan klasifikasi didasarkan pada jumlah pergerakan yang dilakukan.

Berdasarkan klasifikasinya terdapat 3 kelas utama persendian yaitu:
o   Sendi synarthroses (sendi yang tidak bergerak
o   Sendi amphiartroses (sendi yang sedikit pergerakannya)
o   Sendi diarthoses (sendi yang banyak pergerakannya)

b       Masalah Muskulskeletal pada Lansia
Masalah pada musculoskeletal lebih banyak dialami oleh lanjut usia, sekitar 40% lansia menderita arthritis  dan 17% dilaporkan menderita penyakit kronis lainnya yang terkait dengan system musculoskeletal. Penyakit pada system musculoskeletal biasanya tidak berakibat fatal tetapi dapat menyebabkan penyakit kronis. (Calkins, 1992).
Kondisi kronis pada sistem musculoskeletal dapat berdampak pada gangguan fungsi dan ketidakmampuan lansia dalam merawat diri dan mobilisasi. Kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari seperti: mandi, berpakaian, makan akan terganggu. Tidak hanya itu, kemampuan lansia dalam mempersiapkan segala kebutuhan dan peralatan yang dibutuhkannya terkait dengan kebutuhan sehari-hari seperti menyiapkan makanan, mengatur keuangan, transportasi dan merawat rumah juga akan terganggu. Gangguan fungsional yang dapat menghancurkan orang dewasa yang lebih tua yang ingin mempertahankan kemandiriannya, dan ketika ketergantungan terjadi maka akan mengakibatkan hilangnya harga diri, persepsi penurunan kualitas hidup dan depresi

2.1.3 Rematik
a. Definisi
Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang berarti mucus, suatu cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri atau dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat.
Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi dan struktur jaringan sekitarnya (tendon ligament, sinovia, otot sendi, dan tulang). Penyakit ini tidak terbatas menyerang sendi bisa juga mengenai organ lain.
b. Klasifikasi
Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu :
1. Osteoartritis.
Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban.
2. Artritis Rematoid.
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.

OSTEOARTHRITIS

a.       Defenisi
Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.
b.      Etiologi
Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah :
1. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang terkuat. Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering pada umur diatas 60 tahun.
2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi osteoartritis lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada patogenesis osteoartritis.
3. Genetic
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari seorang wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anak-anaknya perempuan cenderung mempunyai tiga kali lebih sering dari pada ibu dananak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis.
4. Suku.
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang – orang Amerika asli dari pada orang kulit putih.
Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan.
5. Kegemukan
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula).

c.       Patofisiologi
Pada OA terdapat proses degenerasi, reparasi dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan ikat, lapisan rawan, sinovium dan tulang subkondral. Pada saat penyakit aktif, salah satu proses dapat dominan atau beberapa proses terjadi bersama dalam tingkat intensitas yang berbeda. OA lutut berhubungan dengan berbagai defisit patofisiologi seperti instabilitas sendi lutut, menurunnya lingkup gerak sendi (LGS) lutut, nyeri lutut sangat kuat berhubungan dengan penurunan kekuatan otot quadriceps yang merupakan stabilisator utama sendi lutut dan sekaligus berfungsi untuk melindungi struktur sendi lutut. Pada penderita usia lanjut kekuatan quadriceps bisa menurun 1/3 nya dibandingkan dengan kekuatan quadriceps pada kelompok usia yang sama yang tidak menderita OA lutut. Penurunan kekuatan terutama disebabkan oleh atrofi otot tipe II B yang bertanggungjawab untuk menghasilkan tenaga secara cepat.
d.      Manifestasi klinis
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi , krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan.
e.       Penatalaksanaan
Obat obatan
Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis, oleh karena patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki atau menghentikan proses patologis osteoartritis.
Perlindungan sendi
Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik. Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat, alat-alat listrik yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena kakai yang tertekuk (pronatio).
Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan.
Dukungan psikososial
Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut memikirkan penyakitnya. Pasien osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor psikologis.
Persoalan Seksual
Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang belakang, paha dan lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena biasanya pasien enggan mengutarakannya.
Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi dari pancuran panas.
Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometric lebih baik dari pada isotonic karena mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot.
Operasi
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomy untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian, debridement sendi untuk menghilangkan fragmen tulang rawan sendi, pebersihan osteofit.

REUMATHOID ARTHRITIS
a        Defenisi
Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh.(Hidayat, 2006)
Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi.

b  Etiologi
Hingga kini penyebab Remotoid Artritis (RA) tidak diketahui, tetapi beberapa hipotesa menunjukan bahwa RA dipengaruhi oleh faktor-faktor :
·         Mekanisme IMUN ( Antigen-Antibody) seperti interaksi antara IGC dan faktor Rematoid
·         Gangguan Metabolisme
·         Genetik
·         Faktor lain : nutrisi dan faktor lingkungan (pekerjaan dan psikososial)

c   Patofisiologi
Cidera mikro vascular dan jumlah sel yang membatasi dinding sinovium merupakan lesi paling dini pada sinovisis remotoid. Sifat trauma yang menimbulkan respon ini masih belum diketahui. Kemudian, tampak peningkatan jumlah sel yang membatasi dinding sinovium bersama sel mononukleus privaskular. Seiring dengan perkembangan proses sinovium edematosa dan menonjol kedalam rongga sendi sebagai tonjolan-tonjolon vilosa.
Pada penyakit Rematoid Artritis terdapat 3 stadium yaitu :
ü  Stadium Sinovisis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak, bengkak dan kekakuan.

ü  Stadium Destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon.
ü  Stadium Deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap.
d  Tanda dan Gejala
Pasien-pasien dengan RA akan menunjukan tanda dan gejala seperti
ü   Nyeri persendian
ü   Bengkak (Rheumatoid nodule)
ü   Kekakuan pada sendi terutama setelah bangun tidur pada pagi hari
ü   Terbatasnya pergerakan
ü   Sendi-sendi terasa panas
ü   Demam (pireksia)
ü   Anemia
ü   Berat badan menurun
ü   Kekuatan berkurang
ü   Tampak warna kemerahan di sekitar sendi
ü   Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal
ü   Pasien tampak anemik
Pada tahap yang lanjut akan ditemukan tanda dan gejala seperti :
ü   Gerakan menjadi terbatas
ü   Adanya nyeri tekan
ü   Deformitas bertambah pembengkakan
ü   Kelemahan
ü   Depresi

e   Pemeriksaan Diagnostik
·               Faktor Reumatoid : positif pada 80-95% kasus.
-       Fiksasi lateks: Positif pada 75 % dari kasus-kasus khas.
-       Reaksi-reaksi aglutinasi : Positif pada lebih dari 50% kasus-kasus khas.
-       LED : Umumnya meningkat pesat ( 80-100 mm/h) mungkin kembali normal sewaktu gejala-gejala meningkat
-       Protein C-reaktif: positif selama masa eksaserbasi.
-       SDP: Meningkat pada waktu timbul prosaes inflamasi.
JDL : umumnya menunjukkan anemia sedang.
-       Ig ( Ig M dan Ig G); peningkatan besar menunjukkan proses autoimun sebagai penyebab AR.
-       Sinar X dari sendi yang sakit : menunjukkan pembengkakan pada jaringan lunak, erosi sendi, dan osteoporosis dari tulang yang berdekatan ( perubahan awal ) berkembang menjadi formasi kista tulang, memperkecil jarak sendi dan subluksasio. Perubahan osteoartristik yang terjadi secara bersamaan.
-       Scan radionuklida : identifikasi peradangan sinovium
-       Artroskopi Langsung : Visualisasi dari area yang menunjukkan irregularitas/ degenerasi tulang pada sendi
-       Aspirasi cairan sinovial : mungkin menunjukkan volume yang lebih besar dari normal: buram, berkabut, munculnya warna kuning ( respon inflamasi, produk-produk pembuangan degeneratif ); elevasi SDP dan lekosit, penurunan viskositas dan komplemen ( C3 dan C4 ).
-       Biopsi membran sinovial : menunjukkan perubahan inflamasi dan perkembangan panas.
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen.

Kriteria Artritis rematoid menurut American Reumatism Association ( ARA ) adalah:
-          Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari ( Morning Stiffness ).
-          Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi.
-          Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
-          Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain.
-          Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris.
-          Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor.
-          Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid
-          Uji aglutinnasi faktor rheumatoid
-          Pengendapan cairan musin yang jelek
-          Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia
-          gambaran histologik yang khas pada nodul.
Berdasarkan kriteria ini maka disebut :
-          Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu
-          Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
-          Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4 minggu.
f   Penatalaksanaan
-          Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan prognosis penyakit ini
-          Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat
-          Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi pasien
-          Termoterapi
-          Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat
-          Pemberian Obat-obatan :
g  Komplikasi
-          Dapat menimbulkan perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses granulasi di bawah kulit yang disebut subcutan nodule
-          Pada otot dapat terjadi myosis, yaitu proses granulasi jaringan otot
-          Pada pembuluh darah terjadi tromboemboli
-          Terjadi splenomegali

2.2 Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dalam proses keperawatan yang harus dilakukan secara sistematis agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat untuk klien. Adapun beberapa hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut:
Ø   Identitas Umum
Yang perlu diketahui disini meliputi; nama,alamat, umur, jenis kelamin, agama/suku, warga Negara, bahasa yang digunakan, penanggung jawab/orang yang bisa dihubungi (nama, alamat, hubungan dengan klien), cara masuk, alasan masuk, tanggal masuk, diagnosa medic, dan lain sebagainya.
Ø  PENGKAJIAN FUNGSIONAL GORDON
·         Persepsi dan Penanganan Kesehatan
ü  Apakah pernah mengalami sakit pada sendi-sendi
ü  Riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya
ü  Riwayat keluarga dengan RA
ü  Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun
ü  Riwayat infeksi virus, bakteri, parasit dll
·                    Nutrisi – Metabolic
ü  Jenis, frekuensi, jumlah makanan yang dikonsumsi (makanan yang banyak mengandung pospor(zat kapur), vitamin dan protein)
ü  Riwayat gangguan metabolic

·        Eliminasi
ü  Adakah gangguan pada saat BAB dan BAK?
·        Aktivitas dan Latihan
ü  Kebiasaan aktivitas sehari-hari sebelum dan sesudah sakit
ü  Jenis aktivitas yang dilakukan
ü  Rasa sakit/nyeri pada saat melakukan aktivitas
ü  Tidak mampu melakukan aktifitas berat
·        Tidur – Istirahat
ü  Apakah ada gangguan tidur?
ü  Kebiasaan tidur sehari
ü  Terjadi kekakuan selama 1/2-1 jam setelah bangun tidur
ü  Adakah rasa nyeri pada saat istirahat dan tidur?
·        Kognitif-persepsi
ü  Adakah nyeri sendi saat digerakan atau istirahat?
·        Persepsi diri – Konsep diri
ü  Adakah perubahan pada bentuk tubuh (deformitas/kaku sendi)?
ü  Apakah pasien merasa malu dan minder dengan penyakitnya
·        Peran – Hubungan
ü  Bagaimana hubungan dengan keluarga?
ü  Apakah ada perubahan peran pada klien?
·        Seksualitas dan Reproduksi
ü  Adakah gangguan seksualitas?
·        Koping - Toleransi Stress
ü  Adakah perasaan takut, cemas akan penyakit yang diderita?
·        Nilai Kepercayaan
ü  Agama yang dianut?
ü  Adakah gangguan beribadah?
ü  Apakah klien menyerahkan sepenuhnya penyakitnya kepada Tuhan

2.2.1 Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan masalah keperawatan yang akan muncul pada penyakit rematik yang dialami lansia adalah:
·        Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
·        Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan pada sendi dan penurunan integritas tulang
·        Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi.
·        Gangguan Citra Tubuh / Perubahan Penampilan Peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas.


Diagnosa I: Nyeri kronik
Definisi  :  Definisi: serangan mendadak atau pelan intensitsnya  dari  ringan  sampai  berat, konstan atau berulang  tanpa akhir yang dapat  diantisipasi/siprediksi  dan  durasi waktunya lebih dari 6 bulan.
Batasan karakteristik:
-        Perubahan berat badan
-        Laporan  secara  verbal  dan  nonverbal  atau  fakta  dari  observasi atas  tingkah  laku  melindungi, iritabilitas,  fokus  pada diri sendiri, gelisah, depresi
-        Atropi yang melibatkan beberapa otot
-        Ketidakmampuan  untuk melanjutkan  aktivitas sebelumnya
NOC
Kontrol nyeri
-        Mengenali faktor penyebab
-        Mengenali onset (lamanya sakit)
-        Menggunakan metode pencegahan
-        Menggunakan  metode  nonanalgetik untuk mengurangi nyeri
-        Menggunakan  analgetik  sesuai kebutuhan  
-        Mengenali gejala-gejala nyeri
-        Mencatat  pengalaman  nyeri sebelumnya
-        Melaporkan nyeri sudah terkontrol
Tingkatan nyeri
-        Melaporkan adanya nyeri
-        frekuensi nyeri dan panjangnya episode nyeri
-        ekspresi nyeri  pada wajah
-        kurangnya istirahat
-        ketegangan otot
NIC:
Pain Management
  • Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
  • Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
  • Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
  • Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
  • Ajarkan tentang teknik non farmakologi
  • Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
  • Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
  • Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

Analgesic Administration
  • Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
  • Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
  • Cek riwayat alergi
  • Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
  • Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
  • Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
  • Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
  • Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

Dignosa 2: Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kekuataan pada sendi dan penurunan intergritas tulang
Defenisi : keadaan ketika seorang individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik, tetapi bukan immobile.
Batasan Karakteristik
·         Kesulitan berpidah
·         Keterbatasan kemampuan untuk gerak
·         Keterbatasan rentang gerak
·         Pergerakan yang lambat
·         Tidak terkoordinasinya gerakan
NOC:
Ambulasi : berjalan (0200)
Defenisi : kemampuan berjalan dari tempat ke tempat
-        Pertahanan berat
-        Berjalan dengan langkah efektif
-        Berjalan dengan langkah lambat
-        Berjalan dengan langkah sedang
-        Berjalan dengan cepat
-        Berjalan dengan langkah naik
-        Berjalan dengan langkah turun
-        Berjalan dengan miring ke atas
-        Berjalan dengan miring ke bawah
-        Berjalan dengan jarak jauh
Posisi badan : inisiatif sendiri (0203)
Defenisi : kemampuan merubah posisi sendiri
-        Telentang ke duduk
-        Duduk ke telentang
-        Duduk ke berdiri
-        Berdiri ke duduk
-        Berdiri ke berlutut
-        Berlutut ke berdiri
-        Berdiri ke jongkok
-        Jongkok ke berdiri
-        Melengkungkan punggung
Perpindahan sendi : aktif (0206)
Defenisi : Rentang gerak dari sendi dengan perpindahan sendi dengan inisiatif sendiri
-        Jari kanan dan kiri
-        Ibu jari kanan dan kiri
-        Pergelangan kanan dan kiri
-        Siku kanan dan kiri
-        Bahu kanan dan kiri
-        Lutut kanan dan kiri
-        Pinggang kanan dan kiri
Tingkat mobilitas (0208)
Defenisi : kemampuan untuk berpindah
-        Keseimbangan penampilan
-        Posisi tubuh
-        Perpindahan otot dan sendi
-        Ambulansi : berjalan
-        Ambulansi dengan kursi roda
NIC
Hambatan mobilitas fisik
Defenisi : keadaan dimana individu mengalami keterbatasan kemampuan fisik dalam berpindah yang mandiri
·         Peningkatan latihan
·         Terapi latihan : ambulansi
·         Pengajaran : aktifitas/latihan yang ditentukan
·         Terapi latihan : keseimbangan
·         Terapi latihan : mobilitas sendi
Tirah baring
Defenisi: peningkatan kenyamanan dan keamanan serta pencegahan komplikasi dari pasien yang mengalami keterbatasan kemampuan untuk tidur
-        Penyediaan tempat tidur yang terapeutik
-        Pencegahan terjadinya footdroop/kaki jatuh
-        Mengontrol kondisi kulit
-        Aktifitas pasif/aktif sebagai peningkatan dari latihan

Pengaturan Energi
Defenisi : pengaturan energi yang digunakan untuk mencegah kelelahan dan untuk fungsi optimis
-        Tentukan batasan fisik pasien
-        Tentukan apa dan berapa banyak aktifitas yang dibutuhkan untuk membangun kesabaran
-        Amati pemberian nutrisi untuk membuktikan sumber energi yang adekuat
-        Amati lokasi dan tempat ketidaknyamanan/nyeri selama beraktifitas
-        Kurangi ketidaknyaman fisik yang bisa dikaitkan dengan fungsi kognitif dan pengamatan dalam/pengaturan aktifitas
Peningkatan latihan
Defenisi : memfasilitasi latihan fisik secara berkala untuk memelihara, atau meningkatkan tingkat yang lebih tinggi melalui latihan kebugaran dan kesehatan
-        Meyakinkan kesehatan pasien mengenai latihan fisik
-        Menganjurkan perasaan verbal tentang latihan atau kebutuhan untuk latihan
-        Melibatkan keluarga pasien dalam perencanaan dan perawatan program latihan
-        Mengajarkan pasien mengenai jenis latihan yang tepat untuk tingkat kesehatan, dalam berkolaborasi dengan dokter dan atau latihan psikologis
-        Memberitahukan pasien tentang frekuensi keinginan, lama, dan intensitas program latihan


Diagnosa 3: Resiko Jatuh Berhubungan Dengan Arthritis,Kesulitan Berjalan Dan Masalah Pada Kaki
Definisi  : Meningkatnya kelemahan terjatuh dikarenakan kerusakan fisik
NOC
Level Mobilitas
Definisi: Kemampuan untuk berpindah
-        Keseimbangan
-        Posisi badan
-        Pergerakan Otot
-        Keseimbangan antar tulang
-        Ambulasi: Berjalan
-        Ambulasi : Kursi roda
Status Penuaan Fisik (0113)
Definisi: Perubahan fisik yang biasanya terjadi pada usia lanjut.
o   Densitas tulang
o   Kapasitas Vital
o   Tekanan darah
o   Elastisitas kulit
o   Kekuatan otot
o   BMR
o   Pola distribusi lemak
o   Fungsi seksual
Status Keamanan (Mencegah Jatuh) (1909)
Definisi: tindakan individu atau penolong untuk mengurangi faktor resiko yang mungkin muncul
-     Penempatan pelindung untuk mencegah jatuh
-     Gunakan secara tepat bangku yang bersandar dan tangga
-     Gunakan sepatu yang pas
-     Penyesuaian tinggi toilet jika diperlukan
-     Penyesuaian tinggi tempat duduk jika diperlukan
-     Penyesuaian tinggi tempat tidur jika dibutuhkan
-     Gunakan pencegahan ketika pengobatan dapat menyebabkan resiko jatu
-     Gunakan prosedur pemindahan yang aman
-     Kompensasi untuk keterbatasan fisik
NIC
Alat bantu
·         Penempatan pelindung untuk mencegah jatuh
·         Gunakan alat bantu penglihatan
·         Kompensasi untuk keterbatasan fisik






















BAB III
PENUTUP
1.1  Kesimpulan
Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi dan struktur jaringan sekitarnya (tendon ligament, sinovia, otot sendi, dan tulang). Penyakit ini tidak terbatas menyerang sendi bisa juga mengenai organ lain.
Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu :
1. Osteoartritis.
2. Artritis rematoid.
Kemungkinan masalah keperawatan yang akan muncul pada penyakit rematik yang dialami lansia adalah:
·        Nyeri berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.
·        Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan pada sendi dan penurunan integritas tulang
·        Defisit perawatan diri berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal, penurunan kekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi
1.2  Saran
Dengan adanya makalah ini diharapkan agar tenaga kesehatan akan lebih dapat memahami tentang konsep dasar dan pemberikan asuhan keperawatan pada pasien lansia dengan rematik











DAFTAR PUSTAKA

Gloria, M.B. (2004). Nursing Intervention Classification. America: Mosby Elsevier.
Herdman, T.H. (2009). NANDA International Nursing Diagnoses: Defenitions and Classification edition 2009-2011. United Kingdom: Willey Blackwell.
Lueckenotte, A.G. (1996). Gerontologic Nursing. America: Mosby.
Masjoer, A, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran (edisi ketiga). Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Media Aesculapius.
Moorhead. (2004). Nursing Outcomes Classification (fourth edition). America: Mosby Elsevier
Purwoastuti, E. (2009). Waspadai Gangguan Rematik. Yogyakarta: Kanisius.
Wiyayakusuma, H. (2007). Atasi Rematik dan Asam Urat Ala Hembing. Jakarta: Puspa Swara.












 v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar